Sabtu, 08 Desember 2018

Katalogisasi Non Buku

KATALOGISASI NON BUKU
Pengertian Katalog
Katalog merupakan sarana temu kembali yang merupakan wakil dokumen bagi koleksi perpustakaan, baik dalam bentuk kartu maupun kumpulan  data elektronik. Katalog merupakan daftar atau kumpulan  data yang tersusun, baik secara manual maupun elektronik mengenai buku-buku atau bahan pustaka lainnya yang dimiliki oleh perpustakaan. Katalog dibuat melalui proses katalogisasi, yaitu kegiatan membuat entri dalam katalog, menyusun deskripsi, bibliografi dan penentuan nomor panggil. Katalog dibentuk menurut aturan tertentu yaitu berpedoman pada AACR2 (Anglo American Cataloguing Rules Second Edition).
FUNGSI KATALOG
1. Sebagai alat/sarana yang di berikan  perpustakaan untuk menemukan kembali bahan pustaka yang sudah diketahui pengarang, judul dan penerbitnya
2. Menunjukkan apa yang dimiliki perpustakaan dari pengarang tertentu atau mengenai subyek tertentu.
3. Menunjukkan dimana bahan pustaka tersebut disimpan.
LANGKAH-LANGKAH SEBELUM KATALOGISASI
Sebelum melakukan katalogisasi pada bahan pustaka, terdapat 2 langkah yang harus dilakukan yaitu:
1. Pengelompokan bahan pustaka menurut jenisnya, seperti monograf (buku), terbitan berseri (majalah, buletin, laporan tahunan, dsb.) brosur/leaflet, dan bahan bukan buku (non book material seperti: foto, CD, kaset, peta, atlas, slide, dsb.). Hal ini penting dilakukan, karena setiap jenis bahan pustaka berbeda cara pengolahannya.
2. Pengecekan pada katalog kendali (shelflist) atau pada pangkalan data, untuk memverifikasi keberadaan bahan pustaka dengan judul yang sama (duplikat), sehingga pustakawan tidak perlu mengolah buku tersebut lebih lanjut, cukup dengan menambahkan nomor induk barunya saja, dan mencantumkan nomor panggil (call number) yang sama dengan buku sebelumnya.
LANGKAH-LANGKAH KATALOGISASI
1. Proses katalogisasi:
a. Menentukan tajuk entri utama (main entry)
b. Menyusun deskripsi bibliografis/deskripsi fisik
 c. Membuat jejakan (khusus katalog bentuk kartu
2. Pembuatan catalog dasar/utama
SUMBER INFORMASI UTAMA
Deskripsi bibliografi suatu bahan pustaka non buku seperti judul, pengarang, penerbit, dan sebagainya merupakan bagian penting yang harus tercantum dalam katalog. Sumber informasi utama dapat diperoleh dari bahan pustaka yang bersangkutan, misalnya pada bahan kartografi seperti peta, bentuk mikro, gambar hidup, rekaman video, caset, CD dan bahan pustaka non buku lainnya, biasanya informasi yang dibutuhkan terdapat di halaman judul, label, kemasan dan bagian lain dari dokumen tersebut. Apabila informasi bahan pustaka tidak tercantum dalam dokumen, boleh diambil dari luar dokumen, atau pun dibuat sendiri oleh pembuat katalog, namun informasi tersebut dicantumkan dalam tanda kurung siku ( […] )
Sumber Informasi Utama
1.  Judul dan pernyataan tanggung jawab, Halaman judul, dokumen sendiri, bingkai judul, label, kemasan, dll.
2. Edisi Halaman judul dan halaman permulaan lainnya, label, kemasan
3. Rincian Karakteristik khusus : Halaman judul dan halamanpermulaan lainnya, label, kemasan
4 Impresum Halaman judul dan halampermulaan lainnya, label,kemasan, dll.
5 Kolasi Dokumen itu sendiri (dari halaman mana saja pada dokumen tersebut)
6 Seri monograf Dokumen itu sendiri (dari halaman mana saja pada dokumen tersebut)
7 Catatan Dokumen itu sendiri atau dari luar dokumen
8 Nomor standar dan harga Dokumen itu sendiri atau dari luar dokumen

Urgensi Katalogisasi
Pengkatalogan merupakan hal yang sangat penting, karena hal ini membantu pemustaka yang ingin menggunakan bahan pustaka tidak kebingungan untuk mencarinya, mereka dapat mencari melalui katalog ini baik itu katalog cetak maupun non cetak. Pustakawan hendaknya memperhatikan pengkatalogan sebab informasi yang terkandung di dalamnya sangatlah penting karena pemenuhan kebutuhan temu kembali merupakan tugas dari seorang pustakawan.

DAFTAR PUSTAKA
Mirnani, Anon. Pengolahan bahan non-buku. Jakarta: Universitas Terbuka, 1997
Sadinal, Dein. Katalogisasi sebuah pengantar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan. 1987
Ellen J, Gredley. 1980. Standardizing bibliographical data: AACR 2 and international exchange Journal of librarianship, vol. 12, 2
Taressa M, Keenan. 2014. Resource Description and Acces : Cataloging Standars affect Reference Services. Vol. 43. N0 2

Interaksi Sosial

Interaksi Sosial 
Pengertian Interaksi Sosial
Menurut Soekanto (2012) Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang dengan individu lainnya, antara kelompok  satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang  maknanya diberikan oleh mereka yang menggunakannya. Interaksi sosial dapat terjadi jika antar individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap awal dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian sebuah informasi penafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan.
Syarat-syarat Berlangsungnya Interaksi Sosial
Sebuah interaksi sosial tidak mungkin bisa terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat  yaitu: adanya kontak sosial, dan adanya komunikasi.(Soerjono Sukanto: 2016)
1. Kontak Sosial
Kontak sosial berasal dari bahasa latin con atau cum yang berarti bersama-sama dan tango yang berarti menyentuh. Jadi secara harfiah kontak adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak bisa terjadi apabila terjadi hubungan secara langsung. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan secara langsung, karena orang dapat mengadakan hubungan tanpa harus menyentuhnya, seperti misalnya dengan cara berbicara dengan orang yang bersangkutan. Dengan perkembangan teknologi dewasa ini, antar individu bisa berhubungan satu sama lain melalui smartphone, komputer, dan alat bantu lainnya tanpa memerlukan sentuhan secara langsung.
2. Komunikasi
Komunikasi adalah seseorang yang memberi penafsiran terhadap orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi respon terhadap sesuatu yang ingin disampaikan. Dengan adanya komunikasi sikap dan perasaan kelompok dapat diketahui olek kelompok lain aatau orang lain. Hal ini kemudain merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang akan dilakukannya.
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
1. Proses Asosiatif
a. Kerja Sama 
Kerja sama timbul sebab orientasi perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok lainnya. Kerja sama mungkin akan bertambah kuat apabila ada bahaya yang mengancam atau ada tindakan-tindakan luar yang menyinggung kesetiaan yang secara tradisional atau institusional telah tertanam di dalam kelompok, dalam diri seseorang atau segolongan orang. Kerja sama dapat bersifat kekerasan apabila kelompok dalam jangka waktu yang lama mengalami kekecewaan sebagai akibat perasaan tidak puas, karena keinginan-keinginan pokoknya tak dapat terpenuhi oleh karena adanya rintangan-rintangan yang bersumber dari luar kelompok itu.
b. Akomodasi
Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian yang dipergunakan oleh para ahli biologi untuk merujuk pada suatu proses dimana makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. (Gillin dan Gillin dalam Soekanto, 2012).  Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses dimana orang  atau kelompok manusia yang awalnya saling bersitegang, saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi adalah suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak merasa kehilangan kepribadiannya.
c. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi cara untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Secara singkat, prosesnya ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walau kadangkala bersifat emosional, dengan tujuan untuk mencapai kesatuan, atau mencapai integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan. (Soerjono, Soekamto : 2015)
Ciri-ciri Interaksi Sosial
Interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terdapat pelaku dengan jumlah jamak
2. Komunikasi antarpelaku menggunakan simbol-simbol
3. Memiliki dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedan berlangsung
4. Mempunyai fungsi/tujuan tertentu.
Tidak semua tindakan merupakan interaksi. Hakikat interaksi terletak pada kesadaran mengarahkan tindakan pada orang lain. Harus ada orientasi timbal-balik antara pihak-pihak yang bersangkutan, tanpa menghiraukan isi perbuatannya: cinta atau benci, kesetiaan atau pengkhianatan, maksud melukai atau menolong (Walgito: 2003).















DAFTAR PUSTAKA
Dorota, Mokrosinska. (2014) Privacy and social interaction. Philosophy & Social Criticism, vol. 39, 8.

Fatnar, Virgia. Kemampuan Sosial Remaja Yang Tinggal Di Pondok Pesantren dengan Yang Tinggal Bersama Keluarga. Jurnal Fakultas Psikologi Vol. 2, No 2. 2014

Ginintasasi, Rahayu .2016. Interaksi sosial. diambil dari :      http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR.PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/INTERAKSI_SOSIAL.pdf (7 Desember 2018)

Jeffrey A, Hall. (2016). When is social media use social interaction? Defining mediated social interaction. New Media & Society vol. 20, 1

Kamis, 06 Desember 2018

Resume Jurnal INDUSTRIALISASI MEDIA MASSA DAN ETIKA JURNALISTIK Karya SRI HADIJAH ARNUS

INDUSTRIALISASI MEDIA MASSA DAN ETIKA JURNALISTIK
Karya
 SRI HADIJAH ARNUS
Pada masa sekarang dengan semakin berkembangnya era tulisan maka kebutuhan untuk menyebarluaskan pesan kepada khalayak luas semakin mendesak, karena menggunakan surat atau naskah saja tidak cukup lagi. Disinilah era komunikasi media massa dimulai, karena secara teknis menjadi mungkin untuk menyampaikan pesan yang panjang dan kompleks secara simultan ke suatu khalayak yang besar jumlahnya dan heterogen.  Perkembangan media massa yang dulunya semata-mata untuk menyebarluaskan informasi kepada khalayak saja, kini media massa menjadi industry, dengan pergeseran tersebut selain menyebarluaskan informasi, kegiatan media massa juga untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Sebagai pencari laba, kemerdekaan pers bukan lagi sesuatu yang esensial, kemerdekaan pers akan dipertukarkan dengan kepentingan ekonomi dari perusahaan pers yang bersangkutan
Selain undang-undang No.40 tahun 1999 tentang pers, setiap wartawan yang tergabung pada suatu organisasi kewartawanan akan berpedoman pada kode etik yang dibuat oleh organisasinya. Fungsi dari kode etik ini ada lima yakni:
Melindungi keberadaan seseorang dalam berkiprah di bidangnya.
Melindungi masyarakat dari malpraktek oleh praktisi yang kurang professional.
Mendorong persaingan sehat antar praktisi.
Mencegah kecurangan antar rekan profesi.
Mencegah manipulasi informasi oleh narasumber.
Industrialisasi media berjalan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat munculnya berbagai macam alat-alat baru yang mempermudah manusia dalam berkomunikasi, dan menyebarkan informasi, perubahan tersebut berpengaruh terhadap media massa, dimana satu perusahan media bisa diakses dengan berbagai jenis media komunikasi. Selain konvergensi media massa, pengaruh industrialisasi media massa membuat adanya konvergensi media, konglomerasi media. Konglomerasi media massa memungkinkan tumbuhnya konglomerat-konglomerat media yang membangun grup media yang dapat menjadi kekuatan besar yang dapat berpengaruh di bidang ekonomi politik, sosial, dan budaya masyarakat. Selain itu konglomerasi media memungkinkan adanya power dibidang politik, dan keuntungan yang besar di bidang ekonomi. Sebagian besar pemilik grup media di Indonesia berkecimpung ke kancah perpolitikan penulis mencontohkan Abu Rizal Bakrie, ketua partai Golkar sekaligus kandidat Presiden RI 2014 dengan pemilik MNC Group Viva news, Surya Paloh yang merupakan ketua partai Nasdem dengan Media groupnya, dan Hary Tanoesudibyo pemilik MNC Group yang akhirnya turut berkecimpung juga di kanca perpolitikan, sebagai kandidat calon presiden 2014, tidaklah terlalu berlebihan apabila penulis mengatakan bahwa media dapat menjadi senjata untuk memperoleh jabatan dan kekuasaan.




Kita tentu ingat pertarungan antara Jokowi vs Prabowo, tetapi tidak hanya itu pertarungan media juga terjadi antara media TV One vs Metro TV. Stasiun TV One cenderung lebih banyak memberitakan tentang calon Prabowo, dibandingkan berita tentang Jokowi,dilihat dari sudut pandang pemberitaan sebagian besar berita yang ditayangkan oleh TV One dari sudut pandang positif tentang Prabowo kebijakan redaksional yang diambil oleh TV One dapat saja terpengaruh oleh politik, dimana pemilik pemilik TV One adalah politisi Aburizal Bakri yang merupakan ketua umum partai golkar yang notabene berkoalisi dalam mengusung calon presiden Prabowo, begitu juga sebaliknya dari pemberitaan Metro Tv, kebalikan dari TV One.
Pemberitaan media saat ini sudah ditunggangi dengan tedensi politik yang tujuan akhirnya untuk memperoleh keuntungan di bidang ekonomi. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan kode etik jurnalistik seperti yang tertuang pada kode etik jurnalistik versi AJI. Padahal pada kode etik versi PWI menerangkan bahwa yang dimaksud berita secara berimbang dan adil ialah menyajikan berita yang bersumber dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan , penilaian atau sudut pandang masing-masing kasus secara proporsional.
Besarnya ketergantungan media massa berasal dari iklan membuat media massa menayangkan acara yang kurang mengandung unsur pendidikan bahkan mengakibatkan rusaknya moral masyarakat, seperti banyaknya sinetron yang mengajarkan kekerasan, kehidupan glamour, ataupun yang sedang marak di TV saat ini yakni penayangan infotaiment yang merupakan tayangan cenderung lebih banyak mengorek-orek kehidupan pribadi mereka. Apabila hal ini ditinjau dari kode etik jurnalistik hal ini tidak seseuai dengan kode etik jurnalistik, hal ini dapat kita lihat pada kode etik jurnalistik versi AJI poi 11, yang berbunyi Jurnalis menghormati hak privasi seseorang , kecuali hal-hal yang bisa merugikan masyarakat. Tuntutan di masa industrialisasi media massa saat ini mengakibatkan sulitnya bagi penegakan etika jurnalistik apalagi kode etik yang dibuat oleh beberapa organisasi pers tidak memiliki implikasi hokum, akhirnya penerapan kode etik secara tegas semuanya dikembalikan ke individu yang terlibat dalam aktivitas di institusi media massa.

Kritik Dan Saran
Menurut pendapat saya jurnal ini ringan dan cocok untuk membuka wawasan kita tentang kebobrokan media massa saat ini yang hanya ditunggangi kepentingan politik dan kekenyangan perut semata, masyarakat jadi lebih waspada tentang penggiringan isu yang terjadi di sekitar kita. Tetapi ada beberapa hal yang mungkin penulis bisa tambahkan yakni pemecahan masalah yang dihadapi, karena dalam jurnal ini hanya berisi pemaparan masalah tanpa ada solusi yang diberikan. (Ir)

Katalogisasi Non Buku

KATALOGISASI NON BUKU Pengertian Katalog Katalog merupakan sarana temu kembali yang merupakan wakil dokumen bagi koleksi perpustakaan, b...