Kamis, 06 Desember 2018

Resume Jurnal INDUSTRIALISASI MEDIA MASSA DAN ETIKA JURNALISTIK Karya SRI HADIJAH ARNUS

INDUSTRIALISASI MEDIA MASSA DAN ETIKA JURNALISTIK
Karya
 SRI HADIJAH ARNUS
Pada masa sekarang dengan semakin berkembangnya era tulisan maka kebutuhan untuk menyebarluaskan pesan kepada khalayak luas semakin mendesak, karena menggunakan surat atau naskah saja tidak cukup lagi. Disinilah era komunikasi media massa dimulai, karena secara teknis menjadi mungkin untuk menyampaikan pesan yang panjang dan kompleks secara simultan ke suatu khalayak yang besar jumlahnya dan heterogen.  Perkembangan media massa yang dulunya semata-mata untuk menyebarluaskan informasi kepada khalayak saja, kini media massa menjadi industry, dengan pergeseran tersebut selain menyebarluaskan informasi, kegiatan media massa juga untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Sebagai pencari laba, kemerdekaan pers bukan lagi sesuatu yang esensial, kemerdekaan pers akan dipertukarkan dengan kepentingan ekonomi dari perusahaan pers yang bersangkutan
Selain undang-undang No.40 tahun 1999 tentang pers, setiap wartawan yang tergabung pada suatu organisasi kewartawanan akan berpedoman pada kode etik yang dibuat oleh organisasinya. Fungsi dari kode etik ini ada lima yakni:
Melindungi keberadaan seseorang dalam berkiprah di bidangnya.
Melindungi masyarakat dari malpraktek oleh praktisi yang kurang professional.
Mendorong persaingan sehat antar praktisi.
Mencegah kecurangan antar rekan profesi.
Mencegah manipulasi informasi oleh narasumber.
Industrialisasi media berjalan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat munculnya berbagai macam alat-alat baru yang mempermudah manusia dalam berkomunikasi, dan menyebarkan informasi, perubahan tersebut berpengaruh terhadap media massa, dimana satu perusahan media bisa diakses dengan berbagai jenis media komunikasi. Selain konvergensi media massa, pengaruh industrialisasi media massa membuat adanya konvergensi media, konglomerasi media. Konglomerasi media massa memungkinkan tumbuhnya konglomerat-konglomerat media yang membangun grup media yang dapat menjadi kekuatan besar yang dapat berpengaruh di bidang ekonomi politik, sosial, dan budaya masyarakat. Selain itu konglomerasi media memungkinkan adanya power dibidang politik, dan keuntungan yang besar di bidang ekonomi. Sebagian besar pemilik grup media di Indonesia berkecimpung ke kancah perpolitikan penulis mencontohkan Abu Rizal Bakrie, ketua partai Golkar sekaligus kandidat Presiden RI 2014 dengan pemilik MNC Group Viva news, Surya Paloh yang merupakan ketua partai Nasdem dengan Media groupnya, dan Hary Tanoesudibyo pemilik MNC Group yang akhirnya turut berkecimpung juga di kanca perpolitikan, sebagai kandidat calon presiden 2014, tidaklah terlalu berlebihan apabila penulis mengatakan bahwa media dapat menjadi senjata untuk memperoleh jabatan dan kekuasaan.




Kita tentu ingat pertarungan antara Jokowi vs Prabowo, tetapi tidak hanya itu pertarungan media juga terjadi antara media TV One vs Metro TV. Stasiun TV One cenderung lebih banyak memberitakan tentang calon Prabowo, dibandingkan berita tentang Jokowi,dilihat dari sudut pandang pemberitaan sebagian besar berita yang ditayangkan oleh TV One dari sudut pandang positif tentang Prabowo kebijakan redaksional yang diambil oleh TV One dapat saja terpengaruh oleh politik, dimana pemilik pemilik TV One adalah politisi Aburizal Bakri yang merupakan ketua umum partai golkar yang notabene berkoalisi dalam mengusung calon presiden Prabowo, begitu juga sebaliknya dari pemberitaan Metro Tv, kebalikan dari TV One.
Pemberitaan media saat ini sudah ditunggangi dengan tedensi politik yang tujuan akhirnya untuk memperoleh keuntungan di bidang ekonomi. Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan kode etik jurnalistik seperti yang tertuang pada kode etik jurnalistik versi AJI. Padahal pada kode etik versi PWI menerangkan bahwa yang dimaksud berita secara berimbang dan adil ialah menyajikan berita yang bersumber dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan , penilaian atau sudut pandang masing-masing kasus secara proporsional.
Besarnya ketergantungan media massa berasal dari iklan membuat media massa menayangkan acara yang kurang mengandung unsur pendidikan bahkan mengakibatkan rusaknya moral masyarakat, seperti banyaknya sinetron yang mengajarkan kekerasan, kehidupan glamour, ataupun yang sedang marak di TV saat ini yakni penayangan infotaiment yang merupakan tayangan cenderung lebih banyak mengorek-orek kehidupan pribadi mereka. Apabila hal ini ditinjau dari kode etik jurnalistik hal ini tidak seseuai dengan kode etik jurnalistik, hal ini dapat kita lihat pada kode etik jurnalistik versi AJI poi 11, yang berbunyi Jurnalis menghormati hak privasi seseorang , kecuali hal-hal yang bisa merugikan masyarakat. Tuntutan di masa industrialisasi media massa saat ini mengakibatkan sulitnya bagi penegakan etika jurnalistik apalagi kode etik yang dibuat oleh beberapa organisasi pers tidak memiliki implikasi hokum, akhirnya penerapan kode etik secara tegas semuanya dikembalikan ke individu yang terlibat dalam aktivitas di institusi media massa.

Kritik Dan Saran
Menurut pendapat saya jurnal ini ringan dan cocok untuk membuka wawasan kita tentang kebobrokan media massa saat ini yang hanya ditunggangi kepentingan politik dan kekenyangan perut semata, masyarakat jadi lebih waspada tentang penggiringan isu yang terjadi di sekitar kita. Tetapi ada beberapa hal yang mungkin penulis bisa tambahkan yakni pemecahan masalah yang dihadapi, karena dalam jurnal ini hanya berisi pemaparan masalah tanpa ada solusi yang diberikan. (Ir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Katalogisasi Non Buku

KATALOGISASI NON BUKU Pengertian Katalog Katalog merupakan sarana temu kembali yang merupakan wakil dokumen bagi koleksi perpustakaan, b...