Rabu, 29 Agustus 2018

Menyemai Literasi Membangun Karakter Insani


Semakin hari menjamurnya smartphone menjadikan masyarakat semakin berubah  pola kehidupanya. Sekarang tidak hanya orang-orang dewasa yang teracuni oleh kehadiran gadget, mulai dari lansia hingga balita semua telah terbius dengan hadirnya kecanggihan teknologi ini. Coba kita telisik ke belakang kehidupan tanpa ada gadget membuat seseorang  lebih peduli dengan keadaan lingkungan sekitar. Fakta tentang hal ini sangat jarang kita jumpai di zaman sekarang. Tetapi bukan keseluruhan dari perkembangan teknologi itu buruk bagi kehidupan, lantas faktor apa yang membuat kehadiran teknologi membuat pola hidup masyarakat menjadi buruk.?
Masa kecil merupakan masa yang sangat menyenangkan, dimana kehidupan kita hanya diisi kesenangan bersama teman. Di masa kecil interaksi antar teman sebaya membuat kita mengerti apa arti berbagi, apa arti sebuah kawan, ketika salah satu teman kita sakit kita akan ikut merasa sedih.  Walaupun mungkin masa kecil kita dulu tak jarang badan ini kotor dan lusuh. Tak jarang juga tempat bermain kita berada di areal persawahan, sungai, pekarangan di dekat rumah. Keseruan saat bermain bola walaupun hanya sebatas batu bata untuk gawang, tanpa ada wasit, dan permainan berhenti ketika bola hilang dan berakhir ketika adzan mulai berkumandang.
Tetapi coba kita lihat keadaan anak-anak zaman sekarang, kehadiran gadget merubah segalanya. Tempat bermain mereka tak sama dengan masa kita dahulu. Kini tempat berkumpul mereka adalah dimana ada wi-fi gratis atau  bila mereka dari kalangan yang mampu mereka akan berdiam dirumah dengan gadget yang jarang jauh dari tangan. Mereka jarang sekali melakukan interaksi sosial bersama teman sebaya. Akibatnya anak-anak hanya berkutat di dunia maya mulai dari social media, game online, bahkan aplikasi-aplikasi yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi mereka dengan bebasnya dapat mereka akses dengan mudah.
Kehadiran teknologi yang semakin canggih bukan merupakan satu-satunya faktor yang membentuk karakter diri seseorang. Banyak faktor lain yang memberikan dampak yang besar bagi pembentukan karakter ini. Mulai dari lingkungan, pemilihan bahan literasi, serta metode  pendidikan orang tua. Di dalam pembentukan karakter seseorang  metode pendidikan serta pengawasan orang tua memegang peranan sangat penting. 
Orang tua merupakan madrasah pertama bagi anak, bila orang tua mengerti bahan literasi yang cocok untuk anaknya, seorang anak akan terbentuk jiwa yang kuat. Pemilihan bahan literasi ini disesuaikan dengan umur serta keinginan orang tua menjadikan anak seperti apa. Kesalahan dalam memberikan bahan literasi akan berdampak sangat buruk, apalagi jika sampai sang anak tidak dalam pengawasan orang tua saat memilih bahan literasi.
Masa muda memang masa dimana seseorang mempunyai rasa keingin tahuan yang sangat kuat, dimasa inilah para generasi penerus bangsa sering salah mengambil contoh yang baik. Disaat rasa keingin tahuan mereka tinggi, dasar yang dimiliki belum kuat serta pengawasan orang tua yang sangat minim. Sehingga mereka mudah terjerumus dalam hal yang tidak di inginkan, yang seharusnya mereka memperbanyak literasi untuk memperkaya pengetahuan dan komunikasi untuk menumbuhkan jiwa sosial, namun sebaliknya dengan adanya gadget mereka lebih suka membaca status daripada membaca buku, dan mereka lebih suka interaksi dalam media maya yang mana tidak mengandalkan suara bercakap-cakap melainkan mengandalkan tulisan tangan untuk berinteraksi sehingga dengan adanya gatget membatasi ruang gerak kita untuk mengolah pola pikir mereka, serta lupa menggali potensi dalam diri mereka dan mematikan daya kreatifitas mereka.
Pada akhirnya, arus modernisasi mau tidak mau harus diterima dengan segala konsekuensinya. Tugas generasi penerus bangsa adalah menjawa tantangan tersebut. Bagaimanpun, kepribadian kuat generasi muda terbentuk karena realitas yang mendukung untuk melakukan transformasi sosial: tantangan dan tuntunan. Ketika eksistensi bangsa ini semakin rapuh,maka seorang generasi muda berkewajiban melakukan pembaharuan.
Untuk itu sudah saatnya kita menggalakan serius budaya literasi yakni budaya membaca dan menulis. Dengan budaya literasi, generasi muda menjadi lebih baik dan bisa memahami apa yang mereka lakukan dan apa yang harus mereka kerjakan. Mari meningkatkan budaya literasi untuk berperan aktif dalam menyemai budaya baca tulis di lingkungan sekitar, membangun iklim yang lebih produkti, berperadaban dan berkemajuan

5 komentar:

  1. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia tak semua masyarakatnya hidup mapan dan memiliki banyak waktu luang untuk menjaga dan mengawasi kegiatan yang dilakukan anaknya. Namun disamping itu anak-anak pada zaman sekarang jika tak diperkenalkan dengan kecanggihan teknologi dia akan tertinggal, lalu bagaimanakah jalan tengah yang bisa kita ambil jika kita berada diposisi orang tua?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di era yang modern ini memang kita tidak bisa menutup diri dari kecanggihan teknologi, tapi bukan tidak mungkin kita dapat membentengi diri dari ganasnya teknologi. benteng kokoh yang akan menghindarkan diri dari keganasan teknologi adalah keimanan seseorang.
      Jika dilihat dari sisi keagamaan, jika beragama islam disekitar kita telah banyak pondok pesantren yang dapat memberikan benteng bagi pengaruh kecanggihan teknologi yang telah merambah ini. Di beberapa ponpes telah banyak yang memberikan pendidikan gratis bagi santrinya, begitupun dengan agama-agama lain dapat membentengi diri dengan mempertebal ajaran agama masing-masing.

      Hapus
  2. Tips nya biar literasi itu bisa jadi hobby dong ka! :)

    BalasHapus

Katalogisasi Non Buku

KATALOGISASI NON BUKU Pengertian Katalog Katalog merupakan sarana temu kembali yang merupakan wakil dokumen bagi koleksi perpustakaan, b...